Dec
21
Epic Riding Bromo
Minggu 18 Desember 2011 menjadi hari yang cukup istimewa bagi saya dan penghuni GowesJelajah karena pada hari ini lah kami melakukan gowes dengan peserta yang besar (30 orang dan 30 sepeda tentunya) untuk bersenang senang di kawasan bromo. Pukul 02.20 kami meninggalkan Malang menggunakan dua buah truk dan selanjutnya sampai di Pertigaan Penanjakan-Padang Pasir sekitar pukul 05.30. Setelah un-loading dan sarapan kami menyusuri jalan menurun dan cukup curam bagi pemula untuk mencapai Padang Pasir.
Sampai padang pasir tentu saja foto keluarga dan foto-foto lainnya (terutama foto narsis). Kebetulan pada hari itu terdapat acara Jambore Honda jadi banyak sekali motor honda yang berlalu lalang di padang pasir. Sayangnya di padang pasir teman-teman banyak yang buru-buru menggowes sepedanya sehingga tidak banyak foto dari teman-teman yang bisa diabadikan, entah kenapa.
Setelah di padang pasir kami menuju ke bukit teletubies yang memang luar biasa keren. Beberapa rekan menyempatkan diri mengambil gambar disini dan memang sangat rugi kalau ke Bromo tidak mampir ke bukit ini apalagi didukung cuaca yang cerah.
Perjalanan selanjutnya ke arah Jemplang. Disini lah musuh utama teman-teman karena harus menanjak beberapa kilometer, jadi yang kuat digowes terus yang capek nggowes dituntun dan di beberapa titik berhenti sejenak, namun yang pasti harus sampai di Jemplang.
Dec
20
Musim hujan… persiapkan sepeda kita
Memasuki musim hujan dan style bersepeda sudah berubah maka dirasakan perlu melakukan bike setup terutama di urusan ban yang mengharuskan penggunaan ban basah dan besar dengan knob model pacul. Dibawah ini sedikit bike setup dan review dari beberapa part esensial untuk trek basah.
Sebagai info tambahan bike setup ini mengacu pada style riding saya dimana banyak digunakan di turunan (downhill) dan beberapa aktifitas freeride.
BAN
Maxxis Swampthing 2.35 (ban depan)
Menurut situs Maxxis ban masuk ke jajaran Downhill jadi harus dimaklumi jika ban ini terasa berat digowes. Swampthing bagus untuk trek kombinasi, maksudnya trek yang terdapat bebatuan dan akar tumbuhan jadi bisa dikatakan ban ini termasuk ban all-round. Pada pengujian di trek ban ini sangat bagus dalam urusan handling dan sangat membantu menghadapi jalanan yang hancur dan berlubang karena terlindas motor trail. Jalanan yang hancur ini saya temui di trek Coban Rondo-Junrejo dan Jemplang (Wilayah Bromo) yang memang trek yang saya lalui sama dengan trek yang dipake motor trail. Pantas saja ban ini sering mendapat acungan jempol dari banyak review di MTBr, sepedaku.com, dan beberapa forum sepeda lainnya. Walaupun ukuran yang tertulis 2.35 namun dibandingkan dengan merk lain setara dengan ukuran 2.20 hal ini berlaku di hampir semua ban lansiran Maxxis kecuali seri Advantage dan Ardent dimana ukurannya sama dengan ban merk lain.
Kenda Kinetic 2.35 (ban belakang)
Bentuknya khas sebagai ban basah dengan knob yang besar sangat baik menjajah jalanan basah dan berlumpur, sidewall ban ini terasa sangat keras dan kokoh. Seperti halnya Swampthing ban ini terasa berat digowes terutama nanjak, wajar lah karena ban ini memang diperuntukkan freeride. Sebelumnya saya pernah menaruh ban ini di depan dan ternyata diluar dugaan saya handlingnya ternyata memuaskan untuk jalanan hancur berlubang dan melibas tikungan walaupun tidak sehebat swampthing namun bisa dijadikan alternatif ban depan juga. Satu hal yang disayangkan sepertinya ban ini tidak diproduksi lagi oleh Kenda karena di line up ban sepeda gunung di situs Kenda tidak ditemukan lagi ban seri ini padahal harganya sangat murah hanya 80 ribu sebiji.
FORK
Urusan Fork sekali lagi saya percayakan kepada RST dengan produk Dirt. Fork ini menggunakan travel 130mm dan seperti karakter fork Dirt Jump lain daya pegas dari travel ini sangat kontan dan bagi yang terbiasa menggunakan fork empuk seperti Suntour XCR akan lumayan tersiksa dengan fork ini. Sampai sekarang tidak ada masalah dan gangguan dengan fork ini, handling bagus travel panjang membantu saya untuk menghadapi jalanan rusak dan turunan curam serta tetap pede melahan tikungan.
Diatas ada bike setup untuk menghadapi jalanan basah dan untuk part lainnya sangat standar seperti rem, frame yang masih setia dengan dominate (ga ada matinya frame ini), bash guard, dan part sepeda lainnya.
See you on the trail guysss….!!!
Nov
30
The Spirit Carries On
Where did we come from?
Why are we here?
Where do we go when we die?
What lies beyond
And what lay before?
Is anything certain in life?
They say, “life is too short,”
“the here and the now”
And “you’re only given one shot”
But could there be more,
Have I lived before,
Or could this be all that we’ve got?
If I die tomorrow
I’d be allright
Because I believe
That after we’re gone
The spirit carries on
I used to be frightened of dying
I used to think death was the end
But that was before
I’m not scared anymore
I know that my soul will transcend
I may never find all the answers
I may never understand why
I may never prove
What I know to be true
But I know that I still have to try
If I die tomorrow
I’d be allright
Because I believe
That after we’re gone
The spirit carries on
“move on, be brave
Don’t weep at my grave
Because I am no longer here
But please never let
Your memory of me disappear”
Safe in the light that surrounds me
Free of the fear and the pain
My questioning mind
Has helped me to find
The meaning in my life again
Victoria’s real
I finally feel
At peace with the girl in my dreams
And now that I’m here
It’s perfectly clear
I found out what all of this means
If I die tomorrow
I’d be alright
Because I believe
That after we’re gone
The spirit carries on
This song is stunning…. ga bikin bosen dengerinnya walaupun udah lama ga dengerin tapi tetep aja suatu saat pengen dengerin lagu ini lagi. Awalnya sih biasa aja dengerin lagu ini tapi lama-lama semacam ada magnet yang membuat telinga ini ingin dengerin lagu ini lagi.
Awalnya sih aku ngira lagu ini ga jauh-jauh dari urusan semangat *merujuk dari judulnya tapi pas tau lirik lagunya secara utuh barulah ngeh kalau ternyata lagu ini merupakan lagu religius dan tentunya religius dari sisi pencipta lagu ini (John Petrucci) dan sepertinya masih bisa diterima oleh sisi religius secara umum.
Secara garis besar lagu ini bercerita tentang pencarian makna hidup, tentang apa yang kita lakukan di kehidupan ini, apakah akhir dari kehidupan ini, tentang kematian yang membuat takut dan pikiran bahwa inilah akhir hidup namun setelah melewati itu semua barulah disadari bahwa hidup tidak berakhir dengan kematian…
bagi yang penasaran dengan lagunya dibawah ini ada klipnya
Nov
23
Legipait Coffee, Tea, and Pancakes
Legipait namanya, sebuah kedai kopi yang berlokasi di perempatan jalan Pattimura 24 Kota Malang. Sebuah kedai kopi baru setidaknya bagi saya karena saya sendiri kurang tahu mulai kapan kedai ini berdiri.
Konsep dari tempatnya sendiri sederhana namun cukup menarik. Bergaya retro classic dengan beberapa ornamen rumahan yang banyak ditemui di rumah orang kebanyakan terutama rumah orang jaman dahulu dengan bangku dan meja yang sering kita temui pada sekolah SD jaman tahun ’90 an. Jika boleh saya definisikan tempat kita duduk dan menikmati hidangan disini dibagi menjadi tiga area yaitu di bagian teras dengan berbagai kursi panjang dan pendek, bagian tengah yang terdapat kursi dan meja khas sekolah SD tahun ’90 an dan sofa sederhana yang lagi-lagi mengambil konsel “jadul”, pada bagian belakang terdapat satu dua kursi dengan tiga kursi tinggi di bar nya. Jika kita cukup beruntung (atau lebih tepatnya sial) untuk duduk di area bar maka kita bisa melihat para crew disini yang meracik kopi, teh, minuman lainnya dan snack jadi kalo teman-teman penasaran bagaimana proses meraciknya bisa duduk di area bar ini.
Faktor utama yang membuat seseorang kembali ke kedai ini adalah pilihan menunnya dan tentu citarasa yang dihadirkan di kedai ini. Ada banyak minuman yang mengandung unsur kafein, teh, dan non kafein sampai saat ini saya baru merasakan empat buat minuman dan sebuah pancake topping Strawberry. Coffe latte adalah minuman perdana saya di kedai ini, kopi yang dicampur susu cukup menggugah rasa penasaran saya dan ternyata memang sesuai dengan ekspektasi saya selanjutnya saya mencoba Cinnamon tea yang dipesan oleh seorang teman, untuk teh ini kuantitasnya lebih banyak dengan yang disajikan di Heiss Coffee untuk citarasa hampir
Sep
13
Parade Helm
Jadi Ceritanya hari ini mau pamer tentang helm maklum peralatanku yang satu ini ga pernah terekspos ke media blog (halah bahasaku) padahal helm telah sering menyelamatkan nyawaku, maklum saya termasuk rider yang begajulan jadi kemungkinan jatuh sangat besar dan kejadian jatuh hampir seminggu yang lalu membuat saya semakin mengerti arti sebuah protective gear. Dibawah ini adalah dua helm yang saya gunakan sampai saat ini
Nuke Head
Penampilan (4/5)
Secara tampilan helm ini termasuk bagus dengan grafis carbon look pada bagian belakang dan tribal pada bagian atas, dengan paduan warna biru, hitam, putih, dan tambahan carbon look helm ini menampilkan sisi kalem saya (ceileee) bentuknya juga cukup bulat sehingga mempertinggi tingkat proteksi kepada kepala. Satu-satunya hal yang tidak bisa membuat saya memberikan nilai maksimal pada kategori ini adalah bagian ekor helm yang terlalu tinggi bagi saya.
Performa(5/5)
Ketika pertama kali memegang helm ini hal pertama yang menarik bagi saya adalah bobot yang sangat ringan dengan bahan yang padat dimana hal ini biasanya hanya berlaku pada helm kelas atas bahkan bobotnya lebih ringan daripada helm Limar yang harganya jauh diatas helm ini. Pada pemakaian terasa nyaman dengan pad busa yang cukup urusan gowes jadi lebih enak.
Lubang ventilasi pada helm ini berjumlah 16 lubang sehingga cepat mengeluarkan panas di kepala. Flow angin juga terasa nyaman
Harga(5/5)
Dengan performa yang ditawarkan helm ini jelas masuk kategori Recomended to Buy karena termasuk murah dengan kualitas yang maksimal.Harga helm ini sendiri berkisar di harga $20
Fox Rampage Full Face

Penampilan (5/5)
Pada pandangan pertama saya sudah sangat kepincut dengan helm ini, mungkin inilah kenapa saya akhirnya membawa pulang helm ini dengan linangan air mata (lebayyy). Bentuk dari helm ini termasuk ramping dengan grafis yang termasuk rame ciri khas kebanyakan helm Downhill. Lambang dan tulisan Fox sendiri terlihat samar-samar karena di-blend dengan grafis lainnya sehingga dari kejauhan tidak ada yang mengira kalau helm ini bermerk Fox, bahkan saya pun ketika pertama melihatnya tidak mengira kalau helm ini seri Fox Rampage malah saya kira bermerk Limar
Performa (5/5)
Satu kekurangan helm ini adalah pada lubang ventilasi yang hanya berjumlah 11 tapi masa iya maen Downhill masih ngurusi keringat di kepala..? jadi secara subyektif pada kategori ini lubang ventilasi tidak saya masukkan kedalam kekurangan. Ketika dipakai helm ini termasuk nyaman digunakan dengan busa yang bisa dilepas-pasang. Bobot helm ini berkisar 1.09 kq, sedikit lebih berat daripada 661 Comp II. Helm ini juga pernah saya ajak untuk menanjak dan hasilnya adalah kepala saya terasa panas (kayaknya yang masalah disini aku deh, masa iya helm Downhill dipake nanjak) namun masih bisa saya tolerir. View yang dihasilkan bagus sehingga saya bisa melihat semua obstacle dengan jelas. Helm ini menggunakan D-Strap sebagai tali pengikat sehingga rcelatif susah untuk menggunakan terutama bagi yang belum pernah menggunakan sistem ini sebelumnya namun sangat aman ketika digunakan. Bagian dalam helm ini berisi pad yang terbuat dari Micro Fiber lunak yang bisa dilepas dan dicuci.
Harga (3/5)
Sebenarnya subyektif banget untuk masalah harga namun sejujurnya bagi saya harga helm ini termasuk berat di dompet namun lebih murah daripada 661 Evo yang memiliki bobot lebih berat dan termasuk murah untuk Helm seri Rampage lansiran Fox.
Aug
18
Karena berusaha jujur saya mendapatkan tilang 0 Rupiah
Siang itu saya sedang berjalan-jalan naik motor di daerah Comboran dan sedang menuju Pasar Besar (Kota Malang) namun ternyata saya memasuki jalur yang salah dimana jalur itu merupakan jalur searah dan saya sedang berada pada arah yang sebaliknya. Dari kejauhan terlihat seorang polisi memperhatikan saya, sebetulnya mau balik kanan sih saya bisa tapi saya pikir biarin aja lah ditilang toh saya juga salah dan kebetulan ketika mendekat saya langsung di stop diminta SIM dan STNK dan dijelaskan bahwa saya melanggar rambu lalu lintas, saya sendiri meminta maaf kepada pak polisi dan saya bilang bahwa saya kurang memahami jalur di daerah situ. Singkat cerita saya disuruh memarkir motor dan menunggu diluar mobil (polisinya bawa mobil) dan inilah percakapan saya dengan Pak Polisi.
TS : Saya
P1 : Polisi yang jaga diluar
P2 : Polisi yang didalam mobil
P1 : sudah punya SIM kan..? masa ga tau rambu-rambu lalu lintas
TS : iya pak saya ga perhatian tadi, maaf pak saya juga baru kenal daerah sini
P1 : di Malang udah berapa lama..? koq masih ga paham juga..?
TS : ya udah lama sih pak tapi saya kan baru tau daerah sini
setelah itu saya dipersilahkan masuk mobil bertemu polisi satunya setelah korban penilangan sebelumnya keluar.
P2 : Anda melanggar rambu lalu lintas dendanya 110 ribu di pengadilan tanggal 9 September
TS : Baik pak kalo begitu eh saya minta slip biru aja pak
P2 : wahh kalo slip biru lebih mahal kalo ga punya SIM bisa sampe satu juta
TS : (bukannya saya punya SIM ya pak) berarti lebih murah slip merah ya pak (belagak oon aja)
P2 : iya lebih murah slip merah
TS : iya deh pak ke pengadilan aja (dan tiba-tiba)
P2 : gini aja deh daripada mahal dan ribet titipin aja ke saya 50 ribu
TS : (wahh ini neh mulai pak polisinya) ke Pengadilan saja pak
P2 : di sini aja lebih enak dan ga mahal
TS : enggak pak saya ga apa-apa ke pengadilan aja sudah
P2 : atau kamu kasih berapa lah terserah
TS : ga usah pak pengadilan aja
P2 : kenapa ga ada uang ta..?
TS : yaaa iya sih pak, udah lah pak ke pengadilan aja ga apa-apa
P2 : ya udah lah ini surat-suratmu kamu saya prioritaskan udah kamu balik aja jangan melanggar lagi
TS : beneran ini pak..? (percaya ga percaya)
P2 : iya udah sana saya prioritaskan
TS : Baik pak terima kasih banyak
Akhirnya saya ga jadi ditilang dehh hehehe padahal sudah niatan baik-baik mau ke pengadilan
Aug
08
Kenapa harus Android..??
Postingan kali ini sebetulnya hanya sebuah reply dari tulisan yang dibuat oleh Mbak Meela dan tentu saja buat nambahin postingan di blog saya tercintah hehehe…
Jawaban dari judul diatas adalah “Ya ga harus lah“, ngapain juga kudu meksa pake hape Android kalo emang ga butuh hehehe tapi bagi yang kebelet pake android ini ada sedikit ulasan dari saya tentang android *telat banget sehh Danuuu…..
Android sendiri adalah sebuah sistem operasi untuk mobile dimana kernel / inti / jantung dari sistem operasi ini adalah Linux, ya linux yang sudah membikin banyak pengguna komputer merasa horor bahkan ketika belum mencoba pun telah menghidupi banyak jutaan handphone dan tablet di seluruh dunia. Android sendiri adalah sebuah produk dari Raksasa Google setelah mengakuisisi perusahaan Android. Inc[1] dan diimplementasikan kepada banyak raksasa handset didunia seperti HTC, Samsung, Sony Erricson, Motorola, LG, dan banyak merk lainnya (sementara ini Nokia ga ikutan). Beberapa fitur yang bisa dinikmati dari Android adalah sebagai berikut.
Low level, middle level, high level..? ada semua..
Ingin merasakan handphone canggih dengan berbagai macam aplikasi yang bisa dipasang, tampilan yang bisa diatur sesuka hati, program bikinan sendiri yang dipasang di hape kita, melakukan modifikasi ketika kita mulai bosan..?? dan yang pasti dengan harga terjangkau..? semua tercakup disini. Android sendiri bisa dipasang di hape kelas low level dengan harga 1,5 juta kebawah sampai kelas high level diatas 5 juta dengan seri sistem operasi yang sama jadi kalau kita bermasalah dengan dana ga perlu sampai merogoh kocek yang dalam hanya untuk merasakan sebuah handphone dengan fitur maksimal.
Tampilan yang intuitif
Seperti tampilan dibawah ini seperti itulah tampilan dari Android, ga kalah dari Iphone, dan Sistem operasi model touchscreen lainnya. Enaknya lagi kita melakukan kostumasi sesuai dengan kreativitas kita walaupun di beberapa kostumasi dibutuhkan kemampuan teknis, tapi banyak panduan beredar di internet jadi untuk orang yang awam dengan dunia IT pun bisa mengikuti dengan mudah.










