Dan gelang itu pun tidak pernah melingkar di tangannya
Terinspirasi dari seorang kawan, sebuah kisah nyata…
Cerita yang banyak beredar di TV entah itu Sinetron ataupun FTV sangat banyak ditemukan cerita dengan tema percintaan sampai-sampai kita sendiri bosan dengan cerita yang intinya itu-itu saja namun dengan model, konflik, latar belakang, dan pelaku yang beraneka ragam. Sekarang saya akan menambah satu lagi cerita yang membosankan ini namun ini bukan karangan fiksi namun benar-benar terjadi.
Alkisah terdapat seorang pemuda merantau untuk menuntut ilmu di salah satu kota besar di Pulau Jawa. Walaupun dengan kemampuan pas-pasan toh akhirnya pemuda ini masuk ke jurusan yang paling banyak peminatnya. Dengan keterbatasan ilmu pemuda ini bersusah payah mengikuti setiap materi yang diberikan di bangku pendidikan karena materi yang diberikan sangat jauh dari kemampuan otaknya. Selain kemampuan akademis yang pas-pasan pemuda ini termasuk golongan orang pemalu jika berhadapan dengan dunia baru terutama jika berurusan dengan mahluk yang dinamakan perempuan. Di lingkungan baru dengan kawan baru dan suasana baru berjalanlah roda kehidupan pemuda ini dalam mengarungi kerasnya kehidupan di kota orang ( kalo keluar negeri kan disebut “di negeri orang” )
Tahun kedua di masa pendidikannya pemuda ini mengikuti suatu kegiatan di jurusannya dimana kegiatan ini memungkinkan setiap orang untuk bertemu orang lain di lain jurusannya. Karena suatu keahlian yang dimiliki sang pemuda (dimana keahlian ini sangat jarang dimiliki orang lain) maka pemuda ini memberikan briefing kepada sekelompok panitia dan saat inilah cerita dimulai. Ketika memberikan Briefing mata pemuda tertuju pada seorang perempuan yang dengan serius memperhatikannya dan mengajukan pertanyaan setiap kali perempuan tersebut kurang bisa memahami paparan yang diberikan oleh sang pemuda. Usai sesi briefing sang pemuda berkenalan dengan perempuan tersebut yang pada akhirnya diketahui bernama Lala, selanjutnya Lala dan sang pemuda berbincang-bincang secara pribadi tentang segala sesuatu yang disampaikan pada briefing. Read the rest of this entry »


Beberapa hari yang lalu sama teman-teman PPE kulineran malam2 dan targetnya adalah D’Grill di daerah watu gong milih makan disini setelah ada saran dari 
Sabtu 4 April 2009 maen-maen ke Wana Wisata Wendit. Tempat ini berada di kawasan Pakis. Bersama teman-teman KKN di Blitar : Putu, Ira, Christin, Agus, Putri, Faya, dan Bayu (koq cuman dikit ya??? yang laennya pada sibuk sendiri ada yang ngerjakan tugas, ada yang pulang dan lain-lain) Tiket masuknya tergolong mahal Rp 10.200,00 (nanggung banget ya…???) padahal dulu sebelum renovasi cuman sekitar Rp 5000,00. Pertama masuk kita langsung disambut oleh kera-kera yang memang hidup bebas di kawasan ini cuman hati-hati jika membawa makanan ditenteng bisa-bisa direbut sama kera-kera ini. Di dalamnya ada kawasan untuk Outbond, tempat berenang, dan Water Boom. Selain itu juga terdapat danau kecil yang disediakan perahu untuk para pelancong. Ada 4 macam perahu disini, yang motor tarifnya Rp. 3000,00 tiap orang, Perahu Bebek (yang ngayuhnya pake mancal) Rp.10.000 untuk 20 menit maksimal 4 orang, Perahu dayung kecil tarifnya Rp.10.000 untuk 20 menit maksimal 4 orang, dan perahu dayung sedang Rp.15.000,00 untuk 20 menit maksimal 6 orang. Berhubung kami ber delapan disewalah 2 buah kapal dayung ukuran kecil. Satu perahu bersama Putu, Putri, dan Ira proses memasuki perahu cukup menegangkan terutama bagi para cewek karena ketika ada seseorang masuk perahu maka perahu akan tergoncang cukup keras. Usai proses naik perahu perjalanan dimulai sambil sesekali ngajari Ira mendayung (sumpah pengen ketawa pas liat anak ini ndayung) beberapa ketegangan muncul apalagi kalau bukan perahu yang tiba-tiba oleng bukan karena takut tenggelam tapi males basah-basahan secara cuman bawa satu baju dan takut hape rusak hihihi. Acara dayung mendayung diiringi dengan proses pengambilan gambar (bahasa kasarnya narsis-narsisan di depan kamera) secara bergantian dengan perahu satunya. Setelah beberapa lama ketegangan yang lain muncul karena perahu motor lewat dan kami yang memakai perahu dayung terkena gelombangnya alhasil kapal bergoyang cukup kencang membuat teman-teman cewek mengeluarkan suara yang cukup membuat kuping saya bermasalah haduuh….



Kejadian ini terjadi beberapa minggu yang lalu, seorang anak FIA Unibraw (sebut saja namanya Rat) membeli sebuah laptop Dell Inspiron 1420 dan beliau meminta saya untuk menginstall Linux di Laptopnya. Setelah dipikir-pikir saya putuskan untuk menginstall Ubuntu di laptopnya dengan pertimbangan dukungan komunitas yang luas, kemudahan yang ditawarkan, dan repository yang lengkap untuk end user. Hal mendasar yang membuat beliau ingin menginstall linux adalah karena masalah virus dan efek-efek anjrit (compiz) yang ditawarkan. Setelah installasi selesai Rat segera pulang karena ada urusan penting (sebagai catatan beliau adalah orang yang awam di dunia komputer, di Sistem Operasi Windows pun dia hanya bisa mendengarkan musik dan mengetik di MS-Word). Selang beberapa hari saya di sms dengan beliau isinya seperti ini:
yeah…. please welcome my ultimate Weapon… Dell Vostro A840 with Linux (Ubuntu hardy LTS) off course and LG KU250. Jadi ingat kata2 salah satu dosen dulu “Notebook adalah senjata mahasiswa Ilmu Komputer” dan pesan itu saya tambah “koneksi internet adalah pelurunya ” sebagai salah satu orang yang berkecimpung di dunia IT, komputer dan koneksi internet adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan baik untuk urusan kerjaan, kuliah, sampe urusan senang2 macam mendengarkan musik ato sekedar maenan fesbuk. Sekitar beberapa minggu kemaren baru punya rejeki buat beli si Vostro, beberapa minggu sebelumnya LG KU250 saya tebus dengan harga yang lumayan untuk sebuah handphone dengan kemampuan 3G dan Music Player. Kenapa handphone dimasukkan sebagai senjata ?? tak lain dan tak bukan adalah kemampuannya untuk dijadikan modem buat si Vostro dan yang pasti linux support 
