Rintisan Sekolah Berbasis Internasional — sebuah renungan
Rintisan Sekolah Berbasis Internasional, istilah sekolah di Indonesia yang mengadopsi sistem pengajaran / bersekolah ala luar negeri (internasional) setidaknya itulah yang aku tangkap ketika berbincang dengan adekku yang saat ini masih mengenyam pendidikan menengah di kampung halaman, dan ketika melihat beberapa sekolah yang ada di Malang ini. Sepanjang yang saya tahu ketika melihat SMP 5 Negeri Malang yang notabene memiliki kelas RSBI terlihat anak-anak berseragam putih biru berseliweran dengan menenteng laptop, dan saya tahu bahwa anak-anak tersebut adalah murid RSBI setelah mendengar penjelasan dari anak didik saya sewaktu mengajar ekstrakulikuler disana.
Dari penjelasan murid saya tersebut saya akhirnya tahu bahwa murid RSBI diwajibkan membawa laptop untuk kebutuhan belajar di sekolah karena semua materi diupload di server yang disediakan sekolah dan mereka mendapatkan akses koneksi internet dalam menunjang kebutuhan materi mereka. Secara strata sekolah yang memiliki kelas RSBI murid-murid ini (read :murid RSBI) merupakan strata tertinggi, bagaimana tidak? mereka mendapatkan materi terupdate dan internet menjadi acuan materi mereka tanpa harus bergantung pada text book, sistem pendidikan menggunakan media multimedia, tatap muka menggunakan bi-lingual (Bahasa Inggris, hanya beberapa mata pelajaran khusus yang diperbolehkan menggunakan Bahasa Indonesia), tiap hari bersentuhan dengan komputer dan koneksi internet, dan beberapa fasilitas lainnya. Hal yang tidak pernah saya temui ketika masih bersekolah dulu (secara Danu… kamu sekolah tahun berapa…??? )
Sejenak saya berpikir dengan fasilitas yang sedemikian hebat apakah mereka benar-benar siswa terpilih? Apakah dengan fasilitas itu mereka bisa mempertanggungjawabkan kompetensinya? dan satu hal yang sangat menggelitik…. apakah dari mereka ada yang dari keluarga dengan ekonomi pas-pasan…..? Satu hal yang pasti (dan ini saya dengar sendiri dari murid dan adik saya) biaya sekolah untuk masuk kelas RSBI adalah sangat mahal jika dibandingkan dengan kelas reguler belum lagi tiap siswa harus membawa laptop untuk menunjang kegiatan belajar-mengajar. Jangankan untuk membayar biaya sekolah, untuk membeli laptop yang jelas-jelas perangkat wajib kegiatan belajar di RSBI Ibu saya yang berpangkat IV C dan menjadi Kepala Sekolah harus bersusah payah untuk memenuhinya dengan mengikuti sertifikasi bagi guru apalagi para orang tua yang ekonominya pas-pasan, itu baru urusan perangkat penunjang belum biaya bulanan dan biaya-biaya lainnya. Jadi semakin jelas jika pendidikan bermutu hanya bisa dinikmati oleh orang berada dan siswa yang memiliki tingkat kemampuan lebih tinggi daripada (daripada siswa RSBI) harus puas dengan kelas reguler, kecuali untuk mereka yang benar-benar cemerlang mungkin sekolah akan memberikan bantuan namun itu hanya sebagian kecil. Belum lagi para pendidik yang saya rasa masih kurang siap untuk menjalankan sistem ini. Para pendidik dituntut untuk selalu update dengan teknologi, harus melek internet, dan harus memiliki kemampuan bahasa Inggris yang baik namun apa yang terjadi di lapangan? Berapa persen guru yang memiliki kemampuan bahasa Inggris yang baik? (kecuali guru Bahasa Inggris) jadi saya kira sistem RSBI yang diberlakukan untuk saat ini masih terlalu terburu-buru walaupun secara konsep (mungkin) lebih baik daripada kelas reguler.
Semoga saja setelah hiruk-pikuk Pesta Demokrasi dan Pemilihan Presiden para elit politik yang berkecimpung di dunia pendidikan tanah air bisa semakin bijaksana dalam menentukan konsep pendidikan untuk negara kita tercinta agar generasi bangsa yang seharusnya dapat menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang lebih maju memiliki kesempatan yang besar dalam mengembangkan potensi dan kreatifitas mereka
Di ketik menggunakan Dellia pada hari Kamis 23 April 2009 pukul 23.00 setelah sumpek seharian menatap script PHP dan belum belajar untuk ujian keesokan harinya.


Jadi ingat Film Laskar Pelangi…
SD Muhammadiyah Gantong vs SD PN Timah
Sekolah pakai laptop, dll… OK lah tak masalah bagi mereka yang berduit.. asal kompetensinya diandalkan dan yang terpenting… Akhlak mereka pun bisa diandalkan…
miris sekarang ini , kalau mau sekolah bagus.. ya dompet dan isinya pun harus bagus..
Anyway.. Sekolah Berbasis Internasional, tidak seharusnya seperti itu (pakai laptop, mahal, dst).. karena Definisi asli dari SBI adalah sekolah yang kurikulumnya menyesuaikan dengan kurikulum internasional.. Jadi apa yang diajarkan di sekolah berbasis internasional di Indonesia, sama yang diajarkan di sekolah berbasis internasional di Gaza sana, sama persis. Kalau di Indonesia belajar integral, di Gaza sana juga belajar integral…
Adapun metode.. itu baru menyesuaikan… Nah masalahnya.. orang2 sekolah terkadang pengen keren-kerenan.. sampai-sampai jadilah bahwa SBI adalah sekolah yang mahal.. harus ditunjang fasilitas bla bla bla.. pakai laptop, LCD, pakai bahasa inggris, dll.. sebuah salah tafsir yang sangat akut untuk kemajuan pendidikan negeri kita…
kalau sekolahan ingin maju dan cepat terkenal perlu adanya sekolahan berbasis internasional